Sabtu, 04 February 2017
Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi saat alarm HP berbunyi. Its time to wake up Dee!! we will travel around Cirebon-Kuningan today!! common...! well, walaupun mata masih layu, tetap gue paksa bangun dan segera bergegas mandi and do final prepare. Segera membangunkan my partner in crime disebelah gue yang masih terlelap. Tak lama berselang, hujan deras turun sekitar jam 04.30...menambah dingin suasana pagi ini. Kali ini kami pergi bersama 2 pasang pasutri yang sudah seperti bro and sis dan kebetulan tinggal berdekatan dengan kami. Sekitar jam 05.30 klakson mobil teman kami berbunyi menjemput kami, sementara diluar hujan masih cukup deras.
Setelah menjemput pasangan terakhir, kami langsung meluncur menuju tol Cipali. Di sepanjang perjalanan, hujan masih terus menemani perjalanan kami. Tetapi puji Tuhan, begitu memasuki tol Cipali, hujan sudah berhenti dan ditukar dengan langit yang cukup cerah. Yippiiee...
 |
| Terlihat lokasi pabrik semen disepanjang perjalanan memasuki area wisata |
First stop kami adalah obyek wisata Banyu Panas Gempol atau biasa disebut Pemandian Air Panas Palimanan yang terletak di desa Palimanan Barat, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon. Kami keluar gerbang tol Sumber Jaya. Lokasi wisata ini menyuguhkan pemandian air panas yang bersumber dari mata air panas dengan kandungan belerang yang konon katanya bermanfaat untuk mengobati sakit kulit. Memasuki area wisata ini, kami agak ragu karena lokasinya itu sebenarnya masih satu area sama pabrik semen PT Indocement. Bahkan kami sempat salah masuk gerbang which is kami masuk ke area pabrik semen...hahaha....untung pak Satpam kasi tau dan kami kembali ke jalan yang benar.
 |
| Gerbang masuk area wisata |
Setelah kembali melalui jalan yang benar, beberapa meter kemudian terlihat gerbang lokasi Pemandian Air Panas-nya. Tiket masuk wisata ini tergolong murmer alias murah meriah. Anda cukup membayar Rp 6.000/orang dan biaya tambahan bagi anda yang ingin berendam sebesar Rp 8.000/orang.
 |
| Berfoto di area sungai air panas |
 |
| Area taman |
Kami memutuskan untuk tidak berendam karena jujur setelah melihat lokasi, agak jijik juga karena area tidak terpelihara, dan juga airnya sangat panas sekali saudara-saudara....suhu airnya mencapai 60 derajat. SANGAT PANAS...! alhasil kami hanya berfoto-foto sejenak disekitar sungai kecil yang dialiri air panas tersebut.
Dari pengeras suara juga terdengar bahwa maksimal berendam adalah 15 menit saja! otherwise bisa kepanggang kita...melepuh semua. Jika membawa telor mentah, mungkin kita bisa membuat telor rebus ya...haha.
Kesan kami setelah mengunjungi obyek wisata ini, mungkin bagi pengelola bisa memperbaiki fasilitas ini agar lebih menarik lagi. Terlebih obyek wisata ini dekat sekali dengan lokasi pabrik semen, sehingga terkesan kotor dan tidak terpelihara dengan baik. Akses jalan menuju lokasi juga tidak diaspal, sehingga masih berdebu karena jalan masih tanah. Harapannya, semoga obyek-obyek wisata di daerah bisa semakin baik untuk menarik wisatawan lebih banyak lagi.
Setelah selesai berfoto, kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi untuk menuju kota Cirebon. Karena jam sudah menunjukkan waktu makan siang, maka kami memutuskan untuk langsung menuju pemberhentian kedua, yaitu Nasi Jamblang Ibu Nur yang sudah sangat tersohor itu. Benar saja, sesampainya di sana, antrian sudah mengulaaarr...
 |
| Antrian yang sudah sangat panjang di Nasi Jamblang ibu Nur |
Yihaa...dengan perut lapar kamipun ikut mengantri. Tak berapa lama, salah satu pelayan menyuruh kami untuk pindah antrian karena ternyata meja satu lagi kosong...yeayyy...akhirnya tiba pada giliran kami untuk memilih lauk pauk yang tersedia di meja. Jadi, Nasi Jamblang khas Cirebon ini adalah nasi yang lauk pauknya bisa pilih sendiri sesuai selera, kalau di Jakarta seperti Warteg (Warung Tegal). Piringnya dilapisi oleh daun jati, lauk pauknya bermacam-macam mulai dari tempe goreng, aneka ikan, aneka jeroan, aneka seafood, dll. Untuk harga, tidak perlu kawatir karena harganya sangat bersahabat. Gue kali ini pilih lauk hati ayam, limpa kecap, tempe goreng, sambal, dan lalap timun. Minumnya bisa langsung ambil sendiri di meja yang telah disediakan (teh tawar dan air putih).
Setelah perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan menuju pemberhentian ketiga, yaitu Rumah Kerang Multi Dimensi yang terletak di Jalan Ki Ageng Tapa, Astapada, Tengah Tani. Rumah Kerang ini juga cukup terkenal di Cirebon, katanya belum ke Cirebon kalau belum singgah ke Rumah Kerang ini. Begitu masuk ke dalam rumah ini, mulut kami langsung menganga dan berdecak kagum karena koleksi kerajinan tangan berbahan dasar kerang ini begitu indahnya. Kami membeli beberapa pernak-pernik untuk dibawa pulang.
 |
| Koleksi kerajinan tangan di Rumah Kerang Multi Dimensi |
Puas berbelanja di Rumah Kerang, kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Sari Goa Sunyaragi yang terletak di Kelurahan Sunyaragi, Kesambi. Kami didampingi oleh seorang guide yang menjelaskan segala macam asal muasal goa dan seluruh kehidupan di dalamnya. Asal-usul nama 'Sunyaragi' tersebut terdiri dari 2 kata yaitu Sunya yang artinya sepi dan Ragi yang artinya raga. Kedua kata ini berasal dari bahasa Sansekerta. Goa ini didirikan bertujuan untuk tempat peristirahatan dan meditasi para Sultan Cirebon dan keluarganya.
 |
| Bagian terdepan Goa Sunyaragi |
Menurut bapak guide kami, luas dari goa ini sekitar 15 ha dan merupakan cagar budaya. Goa ini berada di sisi jalan by pass Brigjen Dharsono. Konstruksi dan komposisi bangunan situs ini merupakan sebuah taman air, itu sebabnya goa Sunyaragi disebut Taman Air Goa Sunyaragi. Pada zaman dahulu, kompleks goa dikelilingi oleh danau Jati. Tetapi lokasi dimana dulu terdapat danau Jati kini sudah mengering.
 |
| Salah satu sudut pelataran Goa Sunyaragi |
Di dalam goa ini banyak terdapat air terjun buatan sebagai penghias, hiasan taman seperti Gajah, patung wanita Perawan Sunti, dan patung Garuda. Goa ini merupakan salah satu bagian dari keraton Pakungwati yang sekarang bernama keraton Kasepuhan. Oiya...karena gue pake celana pendek, gue disuruh pakai kain yang telah disediakan di pintu masuk (tidak ada extra charge untuk kain ini). Lucunya, temen-temen gue yang lain juga ikut pake kain sarung ini biar matching kalo di foto..haha..
Setelah berpanas-panasan mengelilingi seluruh goa, kami akhirnya undur diri dan menuju hotel untuk beristirahat sejenak. Kami menginap di hotel Intan yang terletak di Jalan Karang Anyar no.36. Udara sore yang tidak begitu panas itu membuat kami memutuskan untuk berendam alias berenang di hotel.
 |
| Berenang bersama |
Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, kami sudah siap menuju pemberhentian berikutnya, yaitu Nasi Lengko dan Sate Kambing yang terletak di Jalan Bahagia. Woohooo....jalan-jalan bersama mereka itu gak jauh-jauh dari makanan a.k.a kuliner! Baru kali ini sih nyobain apa itu Nasi Lengko. Ternyata kuliner jenis ini seperti gado-gado yang isinya nasi anget, tahu goreng, tempe goreng, timun mentah dicacah, tauge rebus, daun kucai dipotong kecil-kecil, bawang goreng, lalu disiram bumbu kacang seperti bumbu rujak dan kecap manis. Biasanya kecap manis yang digunakan adalah yang encer. Kami juga memesan sate kambing sebagai pelengkap. Wuihhh...gue jatuh cinta sama sate kambingnya...enak dan empuk dagingnya.
 |
| Nasi Lengko Bahagia |
Habis kenyang terbitlah semangat untuk shopping...! Ketika jam sudah menunjukkan detik-detik mau tutup, kami langsung cuss menuju ke Batik Trusmi yang terletak di jalan Trusmi. Kota Cirebon di malam minggu sungguh menyedihkan bagi kami orang Jakarta yang terbiasa dengan kehidupan malam. Disini jam 8 malam sudah sepi sekali saudara-saudara...sudah banyak toko-toko tutup dan jalan begitu sepi dan gelap. Sesampai di Trusmi, jam menunjukkan pukul 7.30. Langsung saja kami bertanya kepada petugas di pintu masuk "tutup jam berapa mbak?" begitu dijawab jam 9 malam, ada raut kegirangan di muka kami....hahaha...berarti kami masih punya cukup waktu untuk berkeliling dan shopping! yeayy....
 |
| Bertemu tetangga secara kebetulan di Trusmi |
Shopping selesai, kami lanjut menuju Pusat Oleh-Oleh Ade yang berada tepat bersebelahan dengan Empal Gentong H. Apud (Jl. Ir H Juanda) yang sangat terkenal itu. Jadi dalam satu area kami bisa mendapatkan dua tujuan sekaligus. Mantab...
 |
| Empal Gentong H. Apud |
Shopping kelar, perut kenyang...waktunya balik ke hotel untuk beristirahat dan terlelap. Besok kami akan melanjutkan perjalanan ke Kuningan. Zzzzz....
Minggu, 05 February 2017
Alarm HP gue bunyi jam 5 pagi...tapi cuma gue matiin terus molor lagi...zzzz...rencana mau berenang pagi-pagi tinggal mimpi. Alhasil jam 6 baru bangun...terus langsung cuss mandi. Janjian di grup WA sama temen-temen untuk kumpul jam 7 di lobby sekalian check-out. Karena kami booking hotel pakai Agoda, maka kami tidak dapet sarapan di hotel. Tapi gak masalah..karena kami memang pengennya kuliner di luar. Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, kami stop pada pemberhentian pertama di sebuah warung makan yang terlihat ramai sekali oleh pengunjung. Namanya Warung Anteng-Bubur Sop Ayam dan Tetelan Sapi Mang H. Dul yang terletak di jalan R Dewi Sartika No. 9 Sumber, Cirebon. Bubur Sop Ayam ini juga salah satu masakan khas Cirebon. Sebelumnya kami berenam belum pernah ada yang nyobain bubur seperti ini.
 |
| Nomor antrian kami |
Begitu masuk, kami langsung pesan di meja order yang terletak di depan, begitu semua dicatat, kami diberikan nomor antrian yang sempat bikin kami melongo karena nomor antrian kami sudah dua digit saudara-saudara..!! hahaha...kami sempat berpikir, berapa jam lamanya kami harus menunggu ya? tetapi ternyata tidaklah terlalu lama...mungkin sekitar 15-20 menit kemudian kami sudah menerima orderan kami.
Melihat penampakan bubur sop ini, yang terbersit di otak adalah kami seakan makan 2 menu masakan berbeda yang tersaji dalam satu mangkok...yaitu bubur ayam dan sop iga sapi tercampur jadi satu...haha...Soal rasa, lumayan enak kok !
 |
| Warung Anteng - Bubur Sop Ayam & Tetelan Sapi |
 |
| Kami dan bubur sop ayam plus tetelan sapi |
Setelah perut kenyang, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Kuningan. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan alam yang indah dan sejuk karena Kuningan memang terletak di kaki gunung Ciremai. Di kiri kanan kami terhampar sawah-sawah dan pepohonan yang hijau serta sesekali terlihat sungai dengan bebatuan yang besar-besar.
Tiba pada pemberhentian kedua, obyek wisata Plangon yang merupakan perpaduan nilai sejarah, kesejukan alam dan komunitas monyet dengan jumlah yang banyak. Lokasi wisata ini terletak di desa Babakan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon. Plangon sendiri berasal dari kata tegal klangenan yang berarti sebuah tempat untuk menenangkan diri.
 |
| Plangon area |
Disini monyet-monyetnya cukup sejahtera karena banyak pengunjung yang memberi mereka makan. Beberapa penjaja kacang berkeliaran menawarkan kacang untuk bisa diberikan kepada para monyet. Sebungkusnya cuma Rp 2,500. Setelah berfoto-foto dan bercengkrama dengan monyet-monyet ini, kami kembali melanjutkan perjalanan.
Setelah beberapa saat, kami tiba pada pemberhentian ketiga yaitu Goa Maria Fatimah Sawer Rahmat yang terletak di Cisantana, Cigugur, Kuningan di lereng sebelah timur di kaki gunung Ciremai pada ketinggian sekitar 700 m diatas permukaan laut. Di daerah sekitaran Goa ini merupakan wilayah pertanian dengan suhu udara yang cukup dingin. Di Cigugur ini merupakan daerah misi untuk penyebaran agama Katolik sejak dahulu. Tetapi tingkat toleransi beragama disini cukup tinggi, dengan presentase penduduk beragama Islam dan Nasrani adalah 50:50. Peresmian Goa Maria Sawer Rahmat ini dilakukan pada tanggal 21 Juli 1990 oleh Kardinal Tomko. Untuk mencapai puncak Goa, kami harus melakukan pendakian yang sangat panjang dan melelahkan.
 |
| Salah satu tangga pendakian yang terjal |
Sangat dianjurkan untuk memakai sepatu olahraga karena rute yang dilalui baik anak tangga maupun jalan setapak cukup licin, apalagi di kala hujan. Untuk orang tua mungkin akan banyak memerlukan istirahat karena jalan yang panjang dan mendaki terutama untuk rute Jalan Salib-nya. Intinya butuh stamina yang prima jika ingin mengunjungi lokasi ini.
 |
| Goa Maria Fatimah Sawer Rahmat |
Setelah melakukan doa di Goa dan foto-foto bersama, kami-pun pamit turun 'gunung'. Sesampainya di bawah, kami lanjutkan dengan shopping-shopping kecil di toko-toko souvenir dan jajanan disepanjang lokasi parkir. Sejenak kami duduk-duduk melepas lelah sambil memesan jus sirsak dan nyemil aneka gorengan dan bersenda gurau.
 |
Rehat sejenak di salah satu kedai kopi
|
Puas dengan belanjaan yang beraneka ragam di area Goa, kami segera bergegas melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Jakarta. Sambil tengok kiri kanan, kami mencari resto untuk makan siang masih fokus dengan kuliner khas Cirebon. Kami memutuskan untuk berhenti di Empal Gentong Om Apud yang berlokasi di Pasar Cilimus, Kuningan. Entah ini masih relasi dari H Apud atau bagaimana, yang pasti kami lapar..haha. Soal rasa? gue rasa H. Apud masih jadi juaranya. Setelah makan kenyang, numpang pipis di salah satu toko oleh-oleh, kami siap kembali pulang ke Jakarta. Tepat jam 2 siang kami masuk tol menuju Jakarta dan tiba di rumah jam 6 sore dengan selamat.
 |
| Going back to Jakarta |
Demikianlah cerita gue kali ini seputar obyek wisata di Cirebon-Kuningan. Semoga teman-teman traveler bisa mendapatkan informasi dari cerita gue ini. Sampai berjumpa kembali di cerita gue dengan lokasi wisata yang berbeda tentunya. Caaoo....salam traveler!
-end-